Tetap Berbuat Baik Meskipun Tidak Dipahami: Pelajaran dari Nabi Nuh 'Alaihissalam

 

Tetap Berbuat Baik Meskipun Tidak Dipahami

Belajar dari Keteguhan Nabi Nuh 'Alaihissalam

Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang menurutmu benar, tetapi justru disalahpahami oleh orang lain?

Kamu berusaha menjadi baik, tetapi kebaikanmu dianggap berlebihan.

Kamu mencoba menasihati, tetapi justru dianggap menggurui.

Kamu memilih diam agar tidak menyakiti seseorang, tetapi malah dianggap tidak peduli.

Atau mungkin kamu sedang berusaha memperbaiki diri, tetapi orang-orang di sekitarmu tidak memahami mengapa kamu berubah.

Pada akhirnya, muncul satu pertanyaan:

“Untuk apa aku terus melakukan kebaikan kalau tidak ada yang menghargainya?”

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.

Kita ingin kebaikan kita dilihat.

Kita ingin usaha kita dihargai.

Kita ingin niat baik kita dipahami.

Namun, Al-Qur'an mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang jauh lebih dalam melalui kisah Nabi Nuh 'alaihissalam.

Beliau mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu mendapatkan tepuk tangan, dan kebaikan tidak selalu langsung mendapatkan pengakuan.

Seorang Nabi yang Berdakwah Selama Ratusan Tahun

Nabi Nuh adalah salah satu rasul yang kisahnya banyak diceritakan dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” QS. Al-'Ankabut [29]: 14

Seribu tahun kurang lima puluh tahun. 950 tahun.

Bayangkan jika kita diminta melakukan satu kebaikan yang sama selama satu tahun saja.

Mungkin kita sudah mulai bertanya:

"Kapan hasilnya terlihat?"

Bayangkan Nabi Nuh.

Beliau berdakwah selama ratusan tahun.

Mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah.

Namun jumlah orang yang beriman kepadanya tetap sedikit.

Dalam penjelasan Ibn Kathir terhadap QS. Al-'Ankabut [29]: 14, Nabi Nuh disebut terus menyeru kaumnya siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, tetapi mereka justru semakin menjauh dari kebenaran dan hanya sedikit yang beriman.

Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran penting:

Keberhasilan sebuah kebaikan tidak selalu dapat diukur dari banyaknya orang yang meresponsnya.

Ketika Nasihat Tidak Didengar

Nabi Nuh tidak hanya berdakwah sekali.

Beliau mencoba berbagai cara.

Allah menggambarkan perkataan Nabi Nuh dalam Surah Nuh:

“Aku telah menyeru kaumku siang dan malam.” QS. Nuh [71]: 5

Kemudian beliau berkata:

“Kemudian aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan. Lalu aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam.” QS. Nuh [71]: 8–9

Perhatikan usaha beliau.

Beliau tidak berhenti hanya karena satu cara tidak berhasil. Beliau terus mencoba. Terang-terangan. Diam-diam. Siang. Malam. Namun apa yang beliau dapatkan? Penolakan.

Allah menggambarkan respons kaumnya:

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke telinganya, menutupkan bajunya ke wajahnya, tetap dalam keingkarannya dan sangat menyombongkan diri.”QS. Nuh [71]: 7

Betapa menyakitkan.

Seseorang sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang menurutnya menyelamatkan, tetapi orang lain bahkan tidak mau mendengarkan.

Namun Nabi Nuh tetap menjalankan tugasnya.

Tugas Kita Bukan Membuat Semua Orang Memahami Kita

Ada pelajaran besar dari sini.

Nabi Nuh memiliki tugas untuk menyampaikan kebenaran.

Tetapi beliau tidak memiliki kekuasaan untuk memaksa hati setiap orang agar menerima kebenaran tersebut.

Ini adalah sesuatu yang sering kita lupakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang terlalu sibuk memastikan semua orang memahami diri kita.

Kita ingin semua orang tahu bahwa niat kita baik.

Kita ingin menjelaskan mengapa kita mengambil keputusan tertentu.

Kita ingin membuktikan bahwa kita tidak bermaksud menyakiti siapa pun.

Padahal, seberapa pun panjang kita menjelaskan, tidak semua orang akan memahami kita.

Dan itu tidak selalu menjadi masalah.

Ada kalanya kita harus belajar mengatakan:

“Aku sudah berusaha menjelaskan dengan baik. Selebihnya, aku serahkan kepada Allah.”

Bahkan Keluarga Tidak Selalu Berjalan di Jalan yang Sama

Bagian lain dari kisah Nabi Nuh yang sangat menyentuh adalah kisah putranya. Ketika Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk menaiki kapal bersama orang-orang yang beriman, Nabi Nuh melihat salah seorang anaknya berada di luar kapal. Beliau memanggilnya:

يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا

“Wahai anakku, naiklah bersama kami.” QS. Hud [11]: 42

Nabi Nuh masih menginginkan keselamatan anaknya.

Beliau berkata: “Janganlah kamu bersama orang-orang kafir.”

Namun anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah.” QS. Hud [11]: 43

Nabi Nuh kemudian berkata bahwa tidak ada yang dapat melindungi dari ketetapan Allah kecuali orang yang dirahmati-Nya. Kemudian gelombang memisahkan keduanya. Dan anak Nabi Nuh akhirnya termasuk orang yang tenggelam. Kisah ini sangat berat untuk direnungkan. Seorang ayah yang menjadi seorang nabi tidak mampu memaksa anaknya untuk beriman. Bukan karena Nabi Nuh kurang menyayangi anaknya. Bukan karena beliau kurang berusaha. Tetapi karena hidayah berada di tangan Allah.

Kita Bisa Mengajak, Tetapi Tidak Bisa Memaksa Hati

Dari sini kita belajar sesuatu yang sangat penting dalam hubungan dengan orang lain.

Kita bisa mengingatkan.

Kita bisa menasihati.

Kita bisa menunjukkan jalan.

Kita bisa mendoakan.

Kita bisa memberikan contoh.

Tetapi kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berubah.

Bahkan Nabi Nuh pun tidak mampu memaksa orang yang paling dekat dengannya untuk beriman.

Maka jangan terlalu menyalahkan dirimu ketika seseorang yang kamu sayangi belum berubah.

Mungkin kamu sudah berusaha.

Mungkin kamu sudah berbicara dengan baik.

Mungkin kamu sudah mendoakannya berkali-kali.

Setelah itu, ada satu hal yang perlu kita pelajari:

lepaskan hasilnya kepada Allah.

Tidak Semua Kebaikan Harus Mendapat Pengakuan

Ada sebuah kebiasaan manusia yang sangat halus:

Kita melakukan kebaikan, lalu diam-diam menunggu pengakuan. Kita membantu seseorang dan berharap dia mengingatnya. Kita berbuat baik kepada keluarga dan berharap mereka menghargainya. Kita menjaga seseorang dan berharap suatu hari dia melakukan hal yang sama kepada kita. Ketika penghargaan itu tidak datang, kita kecewa.

Lalu kita berkata:

"Aku sudah melakukan banyak hal untuk mereka. Kenapa mereka tidak menghargainya?"

Nabi Nuh mengajarkan kita sesuatu yang berbeda.

Jangan jadikan penerimaan manusia sebagai satu-satunya alasan untuk melakukan kebaikan.

Kalau kita berbuat baik karena Allah, maka penghargaan manusia bukanlah tujuan akhirnya.

Manusia mungkin lupa.

Manusia mungkin tidak tahu.

Manusia mungkin salah memahami.

Tetapi Allah tidak pernah lupa.

Allah Melihat Apa yang Tidak Dilihat Manusia

Ketika manusia hanya melihat hasil, Allah mengetahui proses.

Manusia mungkin berkata:

"Kamu sudah berusaha selama ini, tapi apa hasilnya?"

Allah mengetahui setiap langkah.

Setiap nasihat.

Setiap air mata.

Setiap kesabaran.

Setiap kali kita memilih diam daripada membalas.

Setiap kali kita menolong meskipun tidak ada yang mengetahui.

Setiap kali kita mencoba menjadi lebih baik meskipun tidak ada yang memuji.

Semua itu tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.

Karena ukuran keberhasilan di sisi Allah tidak selalu sama dengan ukuran keberhasilan di mata manusia.

Bahkan Rasulullah ﷺ Pernah Mendapat Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh

Kisah Nabi Nuh juga menjadi penghiburan bagi Rasulullah ﷺ ketika beliau menghadapi penolakan kaumnya.

Allah berfirman setelah menceritakan kisah Nabi Nuh:

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

“Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Hud [11]: 49

Dalam tafsir Ibn Kathir, kisah Nabi Nuh dan kisah para nabi lainnya menjadi penghiburan dan penguatan bagi Rasulullah ﷺ agar bersabar menghadapi pendustaan dan gangguan kaumnya.

Seolah-olah ada pesan:

“Kamu bukan orang pertama yang ditolak ketika membawa kebenaran.”

Dan ini juga menjadi penghiburan bagi kita.

Ketika kita berusaha melakukan sesuatu yang baik tetapi tidak semua orang menerimanya, kita tidak perlu merasa bahwa kita gagal hanya karena tidak mendapatkan pengakuan.

Nabi Nuh Disebut sebagai Hamba yang Bersyukur

Ada hal yang indah tentang Nabi Nuh.

Allah menyebut beliau sebagai:

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.” QS. Al-Isra' [17]: 3

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ juga menyebut Nabi Nuh sebagai seorang rasul kepada manusia di bumi dan sebagai “hamba yang bersyukur” ketika menjelaskan peristiwa syafaat pada Hari Kiamat. Riwayat ini terdapat dalam Sahih al-Bukhari, antara lain hadis no. 3339/3340.

Bayangkan hubungan antara dua hal ini:

Nabi Nuh adalah seseorang yang mengalami penolakan begitu panjang. Namun beliau tetap dikenal sebagai hamba yang bersyukur. Ini mengajarkan kepada kita bahwa keadaan sulit tidak harus mengubah hati kita menjadi pahit. Kita bisa kecewa tanpa menjadi pendendam. Kita bisa tidak dipahami tanpa berhenti menjadi baik. Kita bisa ditolak tanpa kehilangan akhlak.

Kalau Dunia Tidak Memahami Kita

Mungkin ada masa ketika kamu merasa:

"Tidak ada yang mengerti aku."

Mungkin kamu memilih jalan yang berbeda dari teman-temanmu. Mungkin kamu mengambil keputusan yang tidak semua orang setujui. Mungkin kamu sedang berusaha memperbaiki diri, tetapi justru dianggap berubah. Mungkin kamu memilih untuk menjaga prinsip, sementara orang lain mengatakan kamu terlalu keras. Atau mungkin kamu sudah melakukan yang terbaik untuk seseorang, tetapi orang tersebut tetap tidak melihatnya.

Kalau kamu sedang berada di keadaan seperti itu, ingatlah Nabi Nuh.

Beliau mengajarkan: Kamu tidak harus dipahami semua orang untuk tetap berada di jalan yang benar. Tidak semua orang akan mengerti alasanmu. Tidak semua orang akan menghargai kebaikanmu. Tidak semua orang akan menyukai pilihanmu. Dan itu tidak selalu berarti kamu salah. Terkadang, yang perlu kita tanyakan bukan:

“Apakah semua orang menyukaiku?”

Tetapi:

“Apakah apa yang aku lakukan diridai Allah?”

Jangan Mengubah Kebaikan Menjadi Transaksi

Ada satu hal yang perlu kita renungkan. Jika kita berbuat baik dengan harapan selalu mendapatkan balasan dari manusia, maka hati kita akan mudah kecewa. Tetapi jika kita belajar berbuat baik karena Allah, kita akan lebih tenang. Bukan berarti kita tidak boleh berharap diperlakukan baik. Tentu kita boleh. Namun jangan sampai kebaikan kita menjadi seperti transaksi:

"Aku sudah baik kepadamu, maka kamu harus baik kepadaku."

Sebab manusia tidak selalu mampu membalas.

Allah-lah yang menjanjikan bahwa tidak ada amal kebaikan yang sia-sia.

Ketika Hasil Tidak Sesuai dengan Usaha

Nabi Nuh mengajarkan satu hal yang mungkin sangat sulit kita terima: Usaha yang besar tidak selalu menghasilkan respons yang besar. Kita bisa belajar berbulan-bulan tetapi belum mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kita bisa membangun hubungan dengan seseorang tetapi hubungan itu tetap berakhir. Kita bisa membantu orang lain tetapi mereka tetap tidak menghargai. Kita bisa berdakwah, menasihati, dan memberikan contoh, tetapi orang tersebut tetap memilih jalannya sendiri.

Apakah itu berarti usaha kita sia-sia?

Tidak.

Karena ada perbedaan antara: tanggung jawab kita dan hasil yang Allah tentukan.

Tanggung jawab kita adalah berusaha sebaik mungkin.

Hasilnya adalah wilayah Allah.

Bukan Berarti Kita Harus Terus Berada di Tempat yang Menyakiti

Belajar dari Nabi Nuh bukan berarti kita harus terus memaksakan diri kepada orang-orang yang tidak menghargai kita.

Ada waktunya berbicara.

Ada waktunya diam.

Ada waktunya menasihati.

Ada waktunya melepaskan.

Ada waktunya memperjuangkan sesuatu.

Dan ada waktunya menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan semuanya.

Nabi Nuh sendiri akhirnya mengikuti perintah Allah untuk meninggalkan kaumnya dan menaiki kapal bersama orang-orang yang beriman.

Jadi, sabar bukan berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti.

Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan kepada Allah ketika menentukan langkah.

Pelajaran Hidup dari Nabi Nuh

1. Tidak semua kebaikan akan langsung dihargai

Jangan menjadikan apresiasi manusia sebagai ukuran utama nilai sebuah kebaikan.

2. Tidak semua orang akan memahami pilihan kita

Selama pilihan tersebut berada dalam kebaikan dan ketaatan, kita tidak perlu hidup hanya untuk memenuhi penilaian manusia.

3. Tugas kita adalah berusaha, bukan mengendalikan hati orang lain

Kita dapat mengajak dan memberikan contoh.

Tetapi hidayah dan perubahan hati berada di tangan Allah.

4. Jangan mengukur keberhasilan hanya dari hasil yang terlihat

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tetapi orang yang beriman tetap sedikit.

Namun beliau tetap menjalankan amanahnya.

5. Tetaplah menjadi baik meskipun tidak mendapatkan balasan

Karena kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak pernah benar-benar hilang.

6. Belajar melepaskan hasil kepada Allah

Setelah melakukan yang terbaik, kita perlu belajar berkata:

“Ya Allah, aku sudah berusaha. Sekarang aku serahkan hasilnya kepada-Mu.”

Kalau Hari Ini Kamu Merasa Tidak Dipahami

Mungkin hari ini kamu sedang merasa sendirian. Kamu sudah mencoba menjadi baik. Sudah mencoba memahami orang lain. Sudah mencoba menjaga perasaan. Sudah mencoba memperbaiki diri. Tetapi tetap saja ada yang salah memahami. Kalau begitu, mungkin kisah Nabi Nuh adalah pengingat untukmu:

Tidak apa-apa jika tidak semua orang memahami perjalananmu.

Kamu tidak harus menjelaskan setiap keputusanmu kepada semua orang. Kamu tidak harus membuktikan kebaikanmu kepada mereka yang memang memilih untuk tidak melihatnya. Dan kamu tidak harus berhenti menjadi baik hanya karena pernah dikecewakan. Biarkan Allah menjadi saksi. Sebab terkadang, manusia hanya melihat apa yang kita lakukan. Allah melihat alasan di baliknya. Manusia melihat hasil. Allah melihat perjuangan. Manusia mungkin melupakan. Allah tidak pernah lupa.

Tetaplah Menjadi Baik

Kisah Nabi Nuh bukan sekadar kisah tentang banjir besar dan sebuah kapal. Ia adalah kisah tentang keteguhan hati. Tentang seseorang yang terus melakukan apa yang diperintahkan Allah meskipun tidak banyak yang mengikutinya. Tentang seorang nabi yang tidak menjadikan sedikitnya pengikut sebagai alasan untuk berhenti. Tentang seorang hamba yang tetap bersyukur meskipun hidupnya dipenuhi ujian. Dan mungkin, pelajaran terbesar yang bisa kita bawa dari kisah ini adalah:

Jangan berhenti melakukan kebaikan hanya karena kebaikanmu tidak dihargai.

Jangan berhenti menolong hanya karena pernah dimanfaatkan. Jangan berhenti jujur hanya karena orang lain memilih kebohongan. Jangan berhenti menjaga prinsip hanya karena orang lain mengatakan kamu berbeda. Dan jangan berhenti memperbaiki diri hanya karena tidak semua orang memahami perubahanmu. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa banyak orang yang memahami kita. Bukan pula tentang berapa banyak orang yang memuji kita. Bukan tentang berapa banyak orang yang mengingat kebaikan kita.

Tetapi tentang satu pertanyaan:

Ketika semua manusia berhenti melihat, apakah Allah masih melihat apa yang kita lakukan?

Jawabannya:

Ya.

Maka teruslah berbuat baik. Bukan karena manusia akan selalu menghargainya. Tetapi karena Allah mengetahui setiap kebaikan yang kita lakukan. Dan jika suatu hari kamu merasa lelah karena tidak dipahami, ingatlah Nabi Nuh. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran tetap bernilai meskipun hanya sedikit yang menerimanya, dan kebaikan tetap bernilai meskipun tidak semua orang mengakuinya.

Sebab yang paling penting bukanlah:

“Apakah dunia memahami kita?”

Melainkan:

“Apakah kita tetap memilih apa yang benar di hadapan Allah?”


Dariku untukmu😉



Referensi dan Rujukan: 

Al-Qur'an

  • Al-Qur'an, QS. Hud [11]: 36–49.

  • Al-Qur'an, QS. Al-'Ankabut [29]: 14.

  • Al-Qur'an, QS. Nuh [71]: 1–28.

  • Al-Qur'an, QS. Al-Isra' [17]: 3.

  • Al-Qur'an, QS. Al-Mu'minun [23]: 23–30.

  • Al-Qur'an, QS. Ash-Shaffat [37]: 75–82.

Kitab Tafsir

  • Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Hud [11]: 36–49, QS. Al-'Ankabut [29]: 14, dan QS. Nuh [71]: 1–28. Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan panjangnya dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya dan bagaimana kisah tersebut menjadi penghiburan bagi Rasulullah ﷺ agar bersabar menghadapi penolakan.

  • Al-Tabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir ayat-ayat tentang Nabi Nuh.

  • Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Hud dan QS. Nuh.

  • Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, tafsir QS. Hud, QS. Al-'Ankabut, dan QS. Nuh.

Hadis

  • Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya', hadis no. 3339/3340, mengenai Nabi Nuh sebagai rasul pertama kepada penduduk bumi dan sebagai hamba yang bersyukur.

  • Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadis no. 4712, yang juga memuat kisah Nabi Nuh dalam hadis tentang syafaat pada Hari Kiamat.

Catatan Penulis

Kisah Nabi Nuh dalam tulisan ini terutama bersumber dari ayat-ayat Al-Qur'an. Kitab tafsir digunakan untuk membantu memahami konteks dan makna ayat, sedangkan hadis digunakan sebagai pelengkap riwayat yang berkaitan dengan kedudukan dan kisah Nabi Nuh.

Bagian refleksi mengenai kehidupan sehari-hari merupakan renungan penulis yang diambil dari nilai-nilai yang dapat dipetik dari kisah tersebut, bukan klaim bahwa seluruh refleksi tersebut merupakan penafsiran langsung dari ayat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Temukan Kekuatan dan Harapan di Setiap Ayat: Al-Qur’an sebagai Sumber Cahaya Hidup

Menemukan Diri di Balik Ayat Al-Qur'an: Tafsir Sufi sebagai Jalan Kedekatan Dengan Allah.

Saat Kita Merasa Sendirian: Belajar dari Nabi Yunus 'alaihissalam