Aku Belum Pernah Kecewa dalam Berdoa: Belajar Menunggu dari Nabi Zakariya 'alaihissalam

 

Aku Belum Pernah Kecewa dalam Berdoa


Belajar Menunggu dari Nabi Zakariya

Ada doa yang sudah lama kita panjatkan. Hari demi hari berlalu, tetapi apa yang kita harapkan belum juga datang. Kita mencoba bersabar, mencoba berpikir positif, bahkan berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin waktunya memang belum tepat. Namun, jauh di dalam hati, terkadang muncul sebuah pertanyaan:

“Sampai kapan aku harus menunggu?”

Mungkin kita pernah berada di titik ketika melihat orang lain mendapatkan apa yang selama ini kita doakan. Ada yang lebih dahulu menikah, memiliki anak, mendapatkan pekerjaan, menyelesaikan pendidikan, menemukan pasangan, atau mencapai sesuatu yang sudah lama kita impikan: Lalu tanpa sadar kita bertanya kepada diri sendiri:

“Mengapa doaku belum juga dikabulkan?”

Di saat seperti itu, ada satu kisah dalam Al-Qur'an yang layak kita renungkan kembali. Kisah seorang nabi yang berdoa dalam keadaan yang secara manusiawi tampak sangat sulit untuk mendapatkan apa yang ia harapkan.

Namanya adalah Nabi Zakariya 'alaihissalam.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa menunggu bukan berarti Allah tidak mendengar.

Doa yang Dipanjatkan dalam Kesunyian

Al-Qur'an membuka kisah Nabi Zakariya dalam Surah Maryam dengan sebuah gambaran yang sangat indah:

كٓهيعٓصٓ ۝ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ ۝ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا 

“Kaf Ha Ya ‘Ain Sad. Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” QS. Maryam [19]: 1–3

Perhatikan bagaimana Al-Qur'an menggambarkan doanya:

نِدَآءً خَفِيًّا = nida'an khafiyyan

Sebuah seruan yang lembut dan tersembunyi.

Nabi Zakariya tidak berteriak. Beliau tidak membutuhkan siapa pun untuk mengetahui isi doanya. Beliau hanya berbicara kepada Allah. Ada sesuatu yang indah di sini. Tidak semua doa harus terdengar oleh manusia agar menjadi penting. Ada doa yang hanya diketahui oleh kita dan Allah. Doa yang kita panjatkan ketika malam telah sunyi. Doa yang kita bisikkan setelah salat. Doa yang bahkan terkadang hanya berupa air mata karena kita tidak tahu lagi bagaimana merangkai kata.

Dan Allah tetap mendengarnya.

Nabi Zakariya Berdoa dalam Keadaan yang Tidak Mudah

Nabi Zakariya kemudian mengungkapkan keadaannya kepada Allah:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku." QS. Maryam [19]: 4

Ayat ini mungkin menjadi salah satu ayat paling menyentuh ketika berbicara tentang doa.

Nabi Zakariya menyebutkan kelemahannya. Tulangnya telah melemah. Rambutnya telah dipenuhi uban. Secara manusiawi, beliau berada pada usia yang sangat lanjut. Namun ada satu kalimat yang begitu kuat: “Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”

Perhatikan.

Beliau tidak berkata:

“Aku sudah lama berdoa tetapi Engkau belum memberikannya.”

Beliau justru berkata:

“Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”

Seolah-olah beliau sedang mengatakan:

"Ya Allah, aku memang sudah lama menunggu. Aku memang sudah tua. Tetapi selama ini Engkau tidak pernah membuatku kecewa ketika aku berdoa kepada-Mu."

Inilah salah satu bentuk husnuzan kepada Allah yang luar biasa.

Ketika Usia Menjadi Batas bagi Manusia, Bukan bagi Allah

Nabi Zakariya kemudian menyampaikan kekhawatirannya:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا

“Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedangkan istriku seorang yang mandul. Maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.”QS. Maryam [19]: 5

Beliau kemudian berdoa:

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Yang akan mewarisiku dan mewarisi dari keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.” QS. Maryam [19]: 6

Yang menarik, permintaan Nabi Zakariya bukan semata-mata tentang memiliki seorang anak. Beliau menginginkan seorang keturunan yang dapat meneruskan kebaikan dan amanah.

Kemudian Allah memberikan kabar gembira:

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ

“Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang namanya Yahya.” QS. Maryam [19]: 7

Doa yang tampaknya mustahil bagi manusia ternyata tidak sulit bagi Allah.

“Bagaimana Mungkin?”

Mendengar kabar tersebut, Nabi Zakariya pun bertanya: “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku sendiri sudah mencapai usia yang sangat tua?” QS. Maryam [19]: 8

Pertanyaan ini bukan berarti Nabi Zakariya meragukan kekuasaan Allah.

Justru beliau sedang merasa takjub terhadap cara Allah memberikan sesuatu yang menurut perhitungan manusia sangat sulit terjadi. Kemudian Allah menjawab:

هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ

“Hal itu mudah bagi-Ku.” QS. Maryam [19]: 9

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam.

Sesuatu yang menurut kita sangat sulit, bagi Allah adalah mudah.

Kita melihat usia.

Allah melihat kuasa-Nya.

Kita melihat keadaan.

Allah melihat kemungkinan yang tidak mampu kita lihat.

Kita melihat pintu yang tertutup.

Allah mampu membuka pintu yang bahkan tidak pernah kita sadari keberadaannya.

Allah Tidak Hanya Menjawab Doanya, tetapi Memberinya Lebih dari yang Ia Minta

Allah tidak hanya memberikan seorang anak kepada Nabi Zakariya. Allah memberikan kepadanya Yahya, seorang anak yang saleh dan memiliki kedudukan mulia. Al-Qur'an menyebut:

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Wahai Yahya! Peganglah Kitab itu dengan kuat. Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak.” QS. Maryam [19]: 12

Kemudian Allah menggambarkan Yahya sebagai seseorang yang memiliki kasih sayang, kesucian, ketakwaan, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. 

QS. Maryam [19]: 13–14: Artinya, Allah tidak sekadar memberikan apa yang diminta Nabi Zakariya. Allah memberikan jawaban yang penuh dengan kebaikan.

Ada Doa Lain yang Diabadikan dalam Al-Qur'an

Kisah Nabi Zakariya tidak hanya disebut dalam Surah Maryam.

Dalam Surah Ali 'Imran, kita menemukan kisah ketika Nabi Zakariya melihat Maryam mendapatkan rezeki dari Allah. Setiap kali Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Ketika ditanya dari mana makanan itu berasal, Maryam menjawab:

“Itu dari Allah.” QS. Ali 'Imran [3]: 37

Kemudian Al-Qur'an mengatakan:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ

“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya.” QS. Ali 'Imran [3]: 38

Dan doanya:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” QS. Ali 'Imran [3]: 38

Ada sesuatu yang menarik.

Nabi Zakariya melihat karunia Allah kepada orang lain, lalu itu justru membuat beliau semakin yakin untuk berdoa.

Bukan iri.

Bukan kecewa.

Bukan berkata, “Mengapa dia mendapatkannya sedangkan aku tidak?”

Tetapi: “Jika Allah mampu memberikan kepada Maryam, maka aku pun akan meminta kepada Allah.”

Ini adalah pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Ketika Melihat Kebahagiaan Orang Lain

Bukankah kita sering berada dalam keadaan yang berbeda?

Melihat teman mendapatkan pekerjaan. Melihat orang lain menikah. Melihat seseorang lulus lebih dulu. Melihat orang lain memiliki rumah. Melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang selama ini kita doakan. Dan terkadang, tanpa sadar hati kita bertanya:

“Kapan giliranku?”

Kisah Nabi Zakariya mengajarkan kita untuk mengubah pertanyaan itu menjadi:

“Ya Allah, kalau Engkau mampu memberikan nikmat kepada mereka, aku percaya Engkau juga mampu memberikan yang terbaik untukku.”

Kebahagiaan orang lain tidak mengurangi jatah kebahagiaan kita. Rezeki orang lain bukan tanda bahwa Allah melupakan kita. Dan keberhasilan orang lain bukan bukti bahwa kita tertinggal selamanya. Kita hanya sedang menjalani waktu yang berbeda.

Allah Menjawab Doa yang Dipanjatkan dengan Penuh Harap

Allah kemudian berfirman:

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ

“Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia sedang berdiri melaksanakan salat di mihrab, ‘Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan Yahya.’”QS. Ali 'Imran [3]: 39

Bayangkan.

Nabi Zakariya berdoa. Kemudian Allah menjawabnya. Namun jawaban itu datang pada waktu yang Allah kehendaki. Bukan ketika Nabi Zakariya memaksa. Bukan ketika beliau menentukan. Tetapi ketika Allah menetapkan. Inilah yang sering sulit kita terima:

Allah memiliki waktu yang berbeda dengan waktu yang kita inginkan.

“Terlambat” Menurut Kita, Belum Tentu Terlambat Menurut Allah

Kita sering menggunakan ukuran manusia untuk menilai sebuah doa.

“Aku sudah berdoa bertahun-tahun.”

“Aku sudah menunggu terlalu lama.”

“Sepertinya sudah terlambat.”

Tetapi kisah Nabi Zakariya mengajarkan bahwa terlambat menurut manusia bukan berarti terlambat menurut Allah.

Allah tidak pernah kehilangan kendali atas waktu. Apa yang belum diberikan hari ini bukan berarti tidak akan pernah diberikan. Dan apa yang kita anggap terlambat mungkin justru datang pada waktu yang paling tepat menurut ilmu Allah. Karena kita hanya melihat hari ini.

Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Dalam Surah Al-Anbiya, Allah Mengabadikan Doa Nabi Zakariya

Allah juga berfirman:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan ingatlah kisah Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.’”QS. Al-Anbiya [21]: 89

Ayat berikutnya memberikan jawaban yang begitu indah:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ

“Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami menganugerahkan kepadanya Yahya.”QS. Al-Anbiya [21]: 90

Allah kemudian menyebutkan:

وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

“Dan Kami memperbaiki istrinya untuknya.”QS. Al-Anbiya [21]: 90

Lalu Allah menjelaskan sifat mereka:

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebajikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” QS. Al-Anbiya [21]: 90

Menurut penjelasan Ibn Kathir, ayat ini menggambarkan Nabi Zakariya yang memohon keturunan kepada Allah, sementara permohonannya disertai pujian kepada Allah sebagai sebaik-baik pewaris.

Doa Itu Bukan Sekadar Meminta

Dari kisah Nabi Zakariya, kita belajar bahwa doa bukan hanya tentang:

“Ya Allah, berikan aku apa yang aku inginkan.”

Tetapi juga tentang:

“Ya Allah, aku percaya kepada-Mu meskipun aku belum tahu kapan Engkau akan memberikannya.”

Inilah yang membuat doa menjadi ibadah.

Kita datang kepada Allah bukan hanya karena membutuhkan sesuatu.

Kita datang karena kita tahu bahwa Allah adalah tempat bergantung.

Bahkan ketika jawaban belum terlihat, kita tetap percaya.

Nabi Zakariya Juga Seorang Manusia yang Bekerja

Ada satu informasi menarik yang datang dari hadis Nabi ﷺ.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Zakariyya adalah seorang tukang kayu.”

Riwayat ini terdapat dalam Sahih Muslim no. 2379.

Hal ini mengingatkan kita bahwa tawakal tidak berarti hanya duduk menunggu.

Nabi Zakariya adalah seorang nabi, tetapi beliau juga bekerja.

Beliau berdoa kepada Allah sekaligus menjalani kehidupan dengan usaha yang Allah karuniakan kepadanya.

Maka ketika kita berdoa tentang sesuatu, jangan berhenti pada doa.

Berdoalah, lalu berusahalah.

Berdoalah untuk pekerjaan, kemudian kirim lamaran.

Berdoalah untuk pendidikan, kemudian belajar.

Berdoalah untuk masa depan, kemudian persiapkan diri.

Berdoalah agar Allah membuka jalan, kemudian berjalanlah ketika kesempatan itu datang.

Pelajaran Hidup dari Nabi Zakariya

Dari kisah Nabi Zakariya, setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat kita bawa ke dalam kehidupan.

1. Jangan merasa doa kita terlalu lama

Nabi Zakariya berdoa dalam keadaan yang secara manusiawi tampak sulit.

Namun Allah tetap mendengar.

Maka jangan menganggap lamanya waktu sebagai tanda bahwa Allah tidak peduli.

2. Jangan kehilangan prasangka baik kepada Allah

Kalimat:

“Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”

adalah pengingat bahwa seorang mukmin tetap memiliki harapan kepada Allah.

Boleh lelah.

Boleh menangis.

Boleh merasa sedih.

Tetapi jangan berhenti berharap kepada Allah.

3. Jangan membandingkan waktu hidup kita dengan orang lain

Allah memberikan Maryam sesuatu yang berbeda.

Allah kemudian memberikan Nabi Zakariya sesuatu yang berbeda pula.

Setiap orang memiliki waktunya sendiri.

4. Sesuatu yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah

Ketika Nabi Zakariya bertanya bagaimana ia akan memiliki anak dalam keadaan demikian, Allah menjawab:

“Hal itu mudah bagi-Ku.”

QS. Maryam [19]: 9

Maka jangan jadikan keterbatasan kita sebagai ukuran terhadap kekuasaan Allah.

5. Doa harus disertai tawakal dan usaha

Kita tidak hanya meminta.

Kita juga bergerak.

Kita tidak hanya berharap.

Kita juga berusaha.

Dan setelah itu, kita serahkan hasilnya kepada Allah.

Kalau Hari Ini Doamu Belum Terjawab...

Mungkin tulisan ini sedang dibaca oleh seseorang yang sudah lama menunggu.

Menunggu pekerjaan.

Menunggu pasangan.

Menunggu kesembuhan.

Menunggu kelulusan.

Menunggu keluarga membaik.

Menunggu rezeki.

Menunggu seseorang berubah.

Atau bahkan menunggu sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Kalau kamu sedang berada di fase itu, mungkin kisah Nabi Zakariya ingin mengingatkanmu: Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar.

Doamu mungkin sedang membentuk sesuatu dalam dirimu.

Mungkin Allah sedang menyiapkan keadaan.

Mungkin Allah sedang menjauhkan sesuatu yang belum kamu ketahui bahayanya.

Mungkin waktunya belum tiba.

Atau mungkin jawaban Allah nanti akan datang dalam bentuk yang jauh lebih baik daripada apa yang kamu bayangkan.

Kita tidak tahu.

Dan memang, kita tidak harus mengetahui semuanya.

Tugas kita adalah berdoa, berusaha, bersabar, dan percaya.

Jangan Katakan, “Aku Sudah Terlambat”

Ada orang yang merasa hidupnya terlambat.

“Aku sudah terlalu tua.”

“Teman-temanku sudah jauh di depan.”

“Aku seharusnya sudah mencapai ini.”

“Seharusnya aku sudah memiliki itu.”

Tetapi siapa yang menentukan bahwa hidup harus berjalan dalam satu jadwal yang sama?

Nabi Zakariya mengajarkan bahwa Allah tidak dibatasi oleh perhitungan manusia.

Mungkin perjalananmu memang berbeda.

Mungkin waktumu memang berbeda.

Dan berbeda bukan berarti gagal.

Allah tidak meminta kita menjalani hidup seperti orang lain.

Allah meminta kita tetap berjalan bersama-Nya.

Teruslah Berdoa

Pada akhirnya, kisah Nabi Zakariya bukan hanya kisah tentang seorang nabi yang mendapatkan seorang anak di usia tua.

Ini adalah kisah tentang seorang hamba yang tidak kehilangan harapan kepada Tuhannya.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa doa tidak selalu harus dipanjatkan dengan keyakinan bahwa kita tahu kapan jawabannya akan datang.

Kita hanya perlu yakin kepada Siapa yang kita mintai.

Karena kita mungkin tidak tahu kapan.

Kita mungkin tidak tahu bagaimana.

Kita mungkin bahkan tidak tahu apakah jawaban itu akan datang dalam bentuk yang kita harapkan.

Tetapi kita tahu satu hal:

Allah Maha Mendengar doa.

Maka ketika doamu belum terjawab, jangan buru-buru berhenti.

Ketika melihat orang lain mendapatkan apa yang kamu inginkan, jangan berhenti berharap.

Ketika usia terus berjalan, jangan merasa semuanya sudah terlambat.

Dan ketika keadaan berkata, “Tidak mungkin,” ingatlah jawaban Allah:

هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ

“Hal itu mudah bagi-Ku.”QS. Maryam [19]: 9

Mungkin hari ini kamu sedang menunggu.

Tidak apa-apa.

Teruslah berdoa.

Teruslah berusaha.

Teruslah memperbaiki diri.

Dan percayalah kepada Allah dengan cara Nabi Zakariya percaya kepada-Nya.

Sebab bisa jadi, apa yang selama ini kamu sebut “terlambat”, sebenarnya sedang Allah persiapkan untuk datang pada waktu yang paling tepat.

Dan seperti doa Nabi Zakariya:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

QS. Ali 'Imran [3]: 38

Maka, kalau hari ini kamu sedang menunggu sesuatu, mungkin kamu tidak perlu berhenti berdoa.

Sebab selama Allah masih menjadi tempatmu meminta, harapan itu belum pernah benar-benar berakhir.


Dariku untukmu😉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Temukan Kekuatan dan Harapan di Setiap Ayat: Al-Qur’an sebagai Sumber Cahaya Hidup

Menemukan Diri di Balik Ayat Al-Qur'an: Tafsir Sufi sebagai Jalan Kedekatan Dengan Allah.

Saat Kita Merasa Sendirian: Belajar dari Nabi Yunus 'alaihissalam